photo blogkugif.gif
Headlines News :
Home » » Ummat Muslim Rohingya Masih Hidup Menderita

Ummat Muslim Rohingya Masih Hidup Menderita

Written By Ahdi popos on Saturday, 10 May 2014 | 15:39

Ahdi Popos - NEW DELHI – Dalam pelarian tanpa henti terhadap penyiksaan kelompok ekstremis Burma, ribuan Muslim Rohingya tidak dapat menemukan tempat pengungsian yang nyaman di perkemahan India. Dalam jumlah besar, mereka mengalami kegentingan dan krisis kemanusiaan di tengah kondisi memudarnya harapan untuk kembali pulang ke kampung halaman.

“Kami tidak mendapat pertolongan dari siapa pun,” kata seorang pengungsi wanita, Sakura Begum kepada Press TV pada Senin (5/5).

Begum bercerita, ia mengalami hari-hari yang berat selama di pengungsian. Ia bercerita, bahwa ayahnya yang sakit akhirnya meninggal karena tidak mendapatkan penanganan medis yang layak.

Pernyataan singkat Begum mewakili apa yang dirasakan oleh ribuan Muslim Rohingya lainnya. Di perkemahan India, mereka sulit menjalani hari.

Berdasarkan data UN Refuge Agency (UNHCR), sebanyak enamu ribu Muslim Rohingya berstatus sebagai pengungsi di perkemahan India. Namun, hanya  4.500 dari mereka yang menerima kartu pengungsi.

Selain kekurangan pangan, para pengungsi pun membutuhkan obat-obatan. Di tengah-tengah situasi tersebut, banyak dari para pengungsi sakit yang akhirnya meninggal akrena tidak mendapatkan pelayanan dan penanganan medis.

“Kami membutuhkan makanan dan obat-obatan untuk anak-anak kami,” kata Begum lagi. Sebab, jika keadaan tersebut berlangsung terus-menerus, ia khawatir seluruh keluarganya akan mati tanpa mendapat tindak pertolongan yang layak.

Pengungsi lainnya, Mohamed Haroon pun merasakan apa yang dirasakan Begum. Baru pekan ini, kata dia, ia kehilangan dua saudara laki-laki dalam waktu yang hampir bersamaan karena sakit dan tak mendapatkan pertolongan medis.

Pengungsi Rohingya terpencar-pencari di pengungsian kawasan india. Mereka bernaung dari panas dan hujan dengan tenda yang terbuat dari terpal bertiang bambu.

Selain kekurangan pangan dan obat-obatan, para pengungsi pun mengalami kenaikan tingkat pengangguran, serta banyak anak-anak yang putus sekolah.  Hal tersebut dialami Ashokur Rahman's (16 tahun). Kepada South Asia Morning Post, ia bercerita bahwa ia ingin sekali bersekolah dan menjadi terpelajar.

Namun keadaan memaksanya untuk tak melanjutkan sekolah. “Jika saya berangkat ke sekolah, siapa yang akan menghidupi keluarga saya,” katanya.

Editor : Tim Redaksi
Sumber : Republika.co.id
DokFoto : Pengungsi Muslim Rohingya, Republika.co.id
Share this post :

Post a Comment

 
| Home | Tentang Kami | Pasang Iklan
Copyright © 2011-2014. Ahdi Popos - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger