photo blogkugif.gif
Headlines News :
     photo pemilu.gif
     photo gusdurblog2.jpg
     photo gusdurblog2.jpg
    Showing posts with label Opini. Show all posts
    Showing posts with label Opini. Show all posts

    Agama Bukan Warisan Orang Tua

    Beberapa waktu yang lalu kita di suguhkan sebuah tulisan yang di tulis oleh adek kita Afi Hidaya Faradisa hasil buah pikiran adek Afi ini yang di beri judul WARISAN menjadi perbincangan di media sosial dan mungkin juga di perbincangkan di arena Ilmia.

    Saya pribadi setelah membaca tulisan dari adek Afi, berkesimpulan saya kurang setuju, maaf saya tidak menyalahkan tulisan adek kita Afi tapi saya menganggap kurang benar jika agama di katakan warisan dari orang tua atau dari lingkungan sekitar (sosial).

    Saya kutip sedikit dari tulian adek kita Afi yang berjudul Warisan "Setelah beberapa menit kita lahir, lingkungan menentukan agama, ras, suku dan setelah itu, kita membela sampai mati segala hal yang bahkan tidak pernah kita putuskan sendiri"

    Karena arti dari kata warisan dalam KKBI. Kita ambil kata waris, waris adalah orang yang berhak menerima harta dari orang yang telah meninggal sedangkan kata warisan adalah sesuatu yang diwariskan dapat di simpulkan kalau warisan adalah sesuatu hal di turunkan kepada kita secara sengaja bukan kebetulan.

    Bila kita lihat dari aspek agama ternyata kita sebelum lahir kedunia ini sudah berikrar atau sudah bersyahadat jadi meskipun kita tidak mengucapkan syahadat lagi kita sudah beragama islam sejak kita dalam kandungan sudah bersaksi dan mengakui bahwa Allah SWT adalah tuhan kita

    Allah SWT telah menegaskan hal itu dalam Al-Qur'an Al-Kareem, jadi tidak ada alasan apapun untuk mengatakan kalau bayi yang lahir tidak beragama atau tidak bertuhan.

    Dan, ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka, "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab, "Betul, kami menjadi saksi." agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, "Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lengah terhadap ini." (QS Al-A'raf: 172 ).

    Rosul kita Nabi Muhammad SAW juga bersabda dalam hadistnya kalau manusia yang lahir itu lahir dalam keadaan fitra dan kita semua sudah tahu kalau fitra itu adalah suci.

    Dari Abi Hurairah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kecuali orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi." (HR Bukhari 1296)

    Dapat di ambil kesimpulan bahwa agama kita bukan warisan dari orang tua kita agama sudah ada sejak kita dalam kandungan ibu kita tercinta.

    Pasti kalian bertanya Kenapa ada orang kafir..?

    Jawabnya ada pada hadist Nabi Muhammad SAW, anak  dilahirkan dalam keadaan fitra ( beragama ) kecuali orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi

    Orang tua tidak mewariskan agama karena agama sudah ada sejak kita dalam kandungan tapi orang itu hanya merubah agama bayi yang fitra sehingga dia menjadi kufur.

    Mas Itok dan Pejabat Lain

    MOH MAHFUD MD : Mas Itok dan pejabat lain
    MOH MAHFUD MD : DokFoto: Sindonews.com
    BERITA itu sungguh mengejutkan. Anggito Abimanyu, guru besar Fakultas Ekonomi, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, menyatakan mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai guru besar di UGM. Berita itu saya baca melalui SMS dan Twitter, saat saya sedang duduk di Kereta Api Cirebon Ekspres, dari Jakarta menuju Cirebon, Senin sore, awal pekan ini.

    Sangat mengejutkan karena mundurnya Anggito itu bukan lantaran kesibukannya sebagai direktur jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah di Kementerian Agama, melainkan karena plagiarisme.

    Ya, Anggito Abimanyu menyatakan mundur dari UGM sebagai pertanggungjawaban moralnya setelah diketahui dan menyadari dirinya melakukan plagiarisme, yakni memublikasikan tulisan orang lain di media massa nasional yang dijadikannya sebagai tulisannya sendiri. Saya sangat terkejut karena saya mengenal Anggito sebagai kolega saya di UGM sejak lama. Saya dankawan-kawanmemanggilnya Mas Itok.

    Dia dikenal sebagai intelektual yang sangat populer, cerdas, dan berintegritas. Menjelang reformasi tahun 1998, saya sering bertemu dalam berbagai forum ilmiah dengan Anggito. Dia ikut aktif dalam diskusi-diskusi menjelang dan awal-awal reformasi. Saya sangat mengagumi kecerdasan, kebersahabatan, dan sikapnya yang antikorupsi.

    Orangnya supel, sopan, dan tawadhu’. Tiba-tiba dia diberitakan mundur karena plagiarisme. Saya shocked. Saya minta Asmai Ishak, direktur International Program di UII Yogya, untuk mengecek, apa benar yang diberitakan itu Anggito yang kita kenal. Ternyata benar.

    Saya sedih, tetapi juga sedikit bangga. Sedih karena dunia akademik kembali tercoreng oleh plagiarisme, apalagi oleh orang yang secara akademis dibanggakan orang banyak. Harus saya akui untuk menaikkan gengsi di dunia akademik saya sering menyebut diri sebagai kawan dari orang-orang yang punya reputasi tinggi di dunia akademik, antara lain Anggito Abimanyu itu. Tapi ternyata Mas Itok terperangkap dalam plagiarisme.

    Untuk apa itu Anda lakukan, Mas Itok? Meski begitu, ada sedikit kebanggaan di hati karena Mas Itok tidak berkilah dengan alasan yang dicari-cari. Dia langsung mengakui kesalahannya dan menyatakan mundur sebagai guru besar dari UGM. Dengan begitu, di lubuk hatinya yang dalam, Mas Itok masih menjaga kesucian dunia akademik. Di dunia perguruan tinggi, plagiarisme menjadi semacam penyakit yang menjijikkan, seperti penyakit kusta yang penderitanya harus dijauhi.

    Itulah sebabnya banyak akademisi yang menjadi sangat malu, runtuh martabatnya, saat diketahui telah melakukan plagiarisme. Di Bandung, beberapa waktu yang lalu ada dosen yang dicopot dari jabatan guru besarnya karena memublikasikan karya orang lain yang diklaim sebagai karyanya sendiri.

    Jauh sebelum itu ada ijazah doktor yang juga dicabut dari seseorang yang ketahuan melakukan plagiarisme. Ada juga seorang calon doktor yang hanya tinggal selangkah menjadi doktor terpaksa harus angkat kaki alias dipecat karena plagiarisme.

    Bahkan, beberapa waktu yang lalu seorang menteri pertahanan dari sebuah negara besar di Eropa mengundurkan diri setelah dewan akademik menemukan sebagian isi disertasinya mengutip karya orang lain tanpa menyebut sumbernya. Plagiarisme sampai sekarang dianggap penyakit yang menjijikkan di dunia akademis.

    Begitu seseorang ketahuan melakukan plagiarisme atau pelacuran intelektual, rohnya sebagai akademisi pasti habis dan di kampus takkan berharga lagi. Menurut saya, orang yang melakukan plagiarisme berarti orang yang tidak jujur terhadap dirinya sendiri.

    Orang yang tidak jujur terhadap dirinya sendiri pastilah tidak jujur terhadap masyarakat sehingga tidak layak ikut mengurus kepentingan masyarakat. Saya berpendapat, orang yang berani melakukan plagiarisme atau pelacuran intelektual akan berani melakukan korupsi.

    Belakangan ini muncul gejala penodaan terhadap dunia akademik dalam corak yang mirip dengan plagiarisme atau bentuk pelacuran intelektual lainnya. Banyak orang, termasuk para pejabat, yang tergila-gila pada gelar doktor sehingga menulis disertasinya tanpa standar dan prosedur akademik yang benar. Ada yang menjiplak karya orang lain dengan hanya mengganti nama objek penelitian.

    Ada pejabatyangmengikutiprogram doktor secara instan tanpa ikut perkuliahan atau penelitian yang sungguh-sungguh. Ada juga pejabat yang disertasinya dibuat asal-asalan dan promotornya meloloskan hanya karena dia pejabat. Bahkan, ada juga pejabat yang disertasinya dituliskan oleh staf khususnya atau oleh kepala bagian penerbitan di kantornya.

    Celakanya, banyak dosen di perguruan tinggi yang mengistimewakan pelayanan akademis terhadap mahasiswa kelas eksekutif yang dibuka khusus untuk pejabat. Kalau para pejabat yang datang berkonsultasi atau mau kuliah langsung dilayani dengan segala kehormatan, tapi kalau yang mau berkonsultasi mahasiswa reguler tidak diacuhkan; sang dosen pun sering bolos dari jadwal kuliah di kelas reguler.

    Mungkin tak salah kalau ada yang berpikir, maraknya kesewenang- wenangan dan korupsi di negeri ini karena di perguruan tinggi banyak plagiarisme dan pelacuran intelektual. Banyak pejabat yang lahir dari plagiarisme dan proses akademis yang menipu.

    Pikiran seperti ini bisa benar, sebab plagiarisme dan pelacuran intelektual itu adalah ketidakjujuran pada diri sendiri; sedangkan orang yang tak jujur pada dirinya sendiri tentulah tak takut untuk tak jujur kepada rakyat sehingga mudah melakukan korupsi dan berbagai kolusi.

    MOH MAHFUD MD
    Guru Besar Hukum Konstitusi

    kepopuleran dari kata KUFUR


    Kata kufur baru populer di negara indonesia ketika suatu kelompok mengusung politik yang katanya berhaluan islam, disinilah mereka dengan gencar-gencarnya mengampanyekan negara kufur , sistem kufur, dasar ufur, hukum kufur, dll segalah sesuatu yang tidak sejalan dengan pemikiran mereka di anggap kufur padahal jargon khilafah yang mereka usung tidak ada nas atau dalil yang mewajibkan
    Entah mereka mengambil dasar hukum dari mana sehinggah tidak ada yang tidak kufur di Negara ini, bila kita lihat di mana lahirnya mereka tentu bukan dari negara indonesia tapi dari negara palestina yang pencetusnya pecahan dari ikhwanul muslimin, pendiri kelompok ini di dalam ikhwanul muslimin sebagai meliter bukan di bidang keagamaan,
    Ajaran kufur mengkufurkan memang di ajarkan oleh pendiri kelopok ini, sehinggah wajar bila pengikutnya di seluruh dunia berkoar-koar  kufur-kufur Kenapa..? jawabannya Ya tentunya agar pemikiran mereka di terima sebagai solusi instan yang akan memberikan perubahan pada tatanan kehidupan, bila kita melihat sejarah masah lalu model Wahabi di  Saudi Arabia yang memberangus ajaran-ajaran sebagaimana diamalkan oleh kaum nahdliyyin  seperti tawassul, tahlil, talqin, dan lain sebagainya atau sistem Syi’ah yang telah membunuh  ratusan ulama dan umat Islam, menghancurkan masjid-masjid Ahlus Sunnah sebagaimana  yang terjadi di teluk Persi, di bagian wilayah Timur Tengah
    Tapi benarkah bila suatu negara di ruba akan jadi beruba seratus derajat..? tentu saja tidak dapat di jawab dengan pasti semua masih semu. benarkah ketika dasar negara di ruba akan terjalin perdamaian dan keamanan..? tidak tentu bisa saja negara in iakan ada perang bersaudara dan akan jadi malapetaka yang hebat
    Membentuk pemerintahan agama di suatu daerah, akan membunuh agama itu sendiri di daerah lain. Menegakkan Islam di suatu daerah di Indonesia, sama halnya dengan membunuh Islam di daerah-daerah lain seperti di Irian Jaya, di Flores, di Bali dan lain sebagainya. Daerah basis non Islam akan menuntut hal yang sama dalam proses penegakkan agamanya masing-masing. Bentuk negara nasional adalah wujud kearifan para pemimpin agama di Indonesia, tidak ingin terjebak pada institusionalisasi agama, sebagai tuntutan dari otonomi daerah.
    Ketika kelompok itu masuk ke negara kita, semua akan jadi KUFUR tidak ada yang tidak kufur. populurlah kata KUFUR yang di lontarkan oleh orang-orang yang dungu.

    RIZQI ITU ADA YANG NGATUR

    berbagai isu dari dulu terus di terima oleh masyarakat, isu BBM akan naik, pajak akan naik, bayaran listrikpun akan naik, bahkan kebutuhan pokok berupa daging sapi di kabarkan di malingi oleh wakil-wakil rakyat.

    Bila manyarakat di tanya akan hal itu "bagaimana tanggapan anda mengenai kabar-kabar yang mencuat di rana publik" merekapun menjawab dengan ringan seolah tak mau tau akan dampak yang terjadi "rizqi ada yang ngatur cak" begitulah masyarakat kita, seolah tinggat sufistik mereka sangat lekat dalam tubuhnya.
     
     photo TOKOBATIKMADURA_zpsc51d8bed.gif
    | Home | Tentang Kami | Pasang Iklan
    Copyright © 2011-2014. Ahdi Popos - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website
    Proudly powered by Blogger